Tuesday, August 26, 2014

Reputasi dalam Bisnis


Tidak Tampak Tapi Penting

Reputasi diartikan sebagai segala perbuatan dan usaha untuk mendapat nama baik. Dalam bisnis reputasi ini  bersifat intangible asset, merupakan harta yang tidak tampak, tapi penting bagi perusahaan untuk masa kini dan masa mendatang. 

Mengapa penting? 

Cyltamia Irawan, konsultan servis dan bisnis dari Lentera Consulting menyebutkan beberapa penyebabnya:
• Dapat  meraih kepercayaan pelanggan. Bahkan, mereka sukarela memberi rekomendasi produk atau jasa perusahaan Anda kepada pelanggan potensial lainnya. 
• Jadi ciri pembeda. Di antara produk-produk yang sejenis, pelanggan memilih produk Anda karena percaya produk atau jasa perusahaan Anda memberikan kualitas terbaik.
• Pemasok, vendor, supplier, atau rekanan usaha pun percaya pada kemampuan dan kelancaran usaha Anda, sehingga mereka memberi harga kompetitif. Ketika usaha krisis pun, Anda bisa diberi kelonggaran waktu membayar karena mereka percaya pada reputasi Anda yang tidak mungkin ngemplang.
• Memudahkan menarik investor untuk pengembangan perusahaan atau pembuatan produk baru. 
• Karyawan bangga bekerja di tempat Anda sehingga berakibat positif pada kinerja mereka. Bayangkan bila reputasi perusahaan buruk. Jangankan menjual produk, mengaku bekerja di perusahaan Anda pun mereka bisa malu. Perusahaan dengan reputasi baik akan menjadi incaran pencari kerja potensial sehingga Anda berpotensi mendapatkan SDM yang berkualitas dengan cara yang lebih hemat.
• Meningkatkan hubungan Anda dengan pemerintah dan pengusaha sejawat lainnya. Misalnya, Anda dipercaya memimpin himpunan atau organisasi usaha sejenis. 
• Bisa mematok harga premium. Meski Anda mematok harga sedikit lebih tinggi, konsumen percaya Anda memberikan kualitas atau service yang lebih kepada mereka.

Membangun nama baik, menurut Cyltamia, bahkan harus dimulai sejak Anda membangun perusahaan, seperti lewat logo dan merek yang biasanya merupakan cermin visi dan misi perusahaan. Jika seorang ibu membelikan anaknya cup cake merek yummy-yummy misalnya, ia berharap mendapatkan customer experience seperti merek itu. Jika keinginan itu ia dapatkan, maka reputasi pun mulai terbangun. 

Reputasi itu harus dimiliki semua perusahaan dan menjadi aset yang benar-benar harus dibangun dan dijaga. Lebih-lebih lagi oleh perusahaan jasa profesional, seperti konsultan, law firm, bergerak di bidang kesehatan, pendidikan dan keuangan. Karena, pada bidang ini customer menaruh kepercayaan lebih, tetapi juga jadi lebih sensitif jika ada masalah.

Sering kali reputasi melekat pada pengendali usahanya. Pada usaha besar, biasanya melekat pada CEO, sementara pada UKM pada pemiliknya, karena biasanya pemilik juga sekaligus pengendali usaha. Mereka menjadi wajah perusahaan, peletak nilai-nilai perusahaan, dan juga menjadi suara perusahaan. Tak mengherankan saat terjadi krisis yang menggoyang reputasi, mereka orang yang paling dicari, meski kesalahan belum tentu disebabkan oleh mereka.

Menurut Cyltamia, rusaknya reputasi bukan hanya disebabkan oleh masalah besar. Riak-riak kecil seperti keluhan pelanggan akan delivery order yang tidak tepat waktu, toilet tak terjaga kebersihannya, atau pelayan kurang ramah, juga berpotensi menggulung usaha Anda, jika hanya didiamkan.   

Repotnya, di era media sosial dengan jaringan komunikasi tersebar luas, persoalan reputasi ini dapat meluas secepat membiaknya virus. Kicauan kejengkelan  di Twitter yang tak lebih dari 144 karakter itu bisa berkembang subur bagai jamur di musim hujan. Belum lagi jika ditautkan juga di wall Facebook, Path, dan media sosial lainnya. “Media sosial itu punya multiplayer effect, seperti gelombang. Bisa datang bertubi-tubi dan makin besar makin besar sehingga membuat Anda gelagapan. Akhirnya, bukan fokus pada masalah, justru Anda jadi terpancing untuk fokus pada orang yang men-tweet dan retweet, misalnya,“ ujar Cyltamia.


Sumber :
http://www.femina.co.id

No comments :

Post a Comment